Sunday, April 12, 2026

Kita Butuh Menulis, Mengarang, dan Membaca

*Gambar hasil AI Gemini

Waktu pendidikan dasar dulu (SD, SMP, SMA) coba angkat tangan, siapa yang jengkel kalau diminta guru menulis di papan tulis kapur? Haha. Saya termasuk disitu. Atau, mungkin ada yang terpaksa menyeret tulisannya yang sudah jelek karena tidak nututi dikala ada seorang teman yang men-dikte catatan pelajaran bahasa Indonesia? Bahkan, memberi jarak satu halaman, untuk nanti diupayakan menambah secara mandiri di rumah bagian yang ketinggalan. Dengan 'dipaksa' menulis berhalaman-halaman begitu, kita dipaksa berpikir dan berkoordinasi antara telinga, mata, tangan dan otak supaya tulisan terbaca, tidak ketinggalan jauh, dan susunan kata tetap baik. Buku catatan murid wanita dengan tulisan yang rapi pun menjadi rebutan mereka yang tertinggal. Tak jarang catatan itu difotokopi, untuk disalin di rumah.
Kalau tidak, catatan yang tidak lengkap akan mendapat nilai yang kurang baik dari guru. Biasanya, guru sering tiba-tiba meminta untuk mengumpulkan catatan sewaktu-waktu. Jujur aja, saya tidak sempurna untuk masalah ini. Banyak nilai yang kurang memuaskan. Haha.

Lain lagi, tugas mengarang indah. Biasanya tugas mengarang ini diberikan ketika baru masuk setelah libur lama. Dikala para guru juga masih belum tune-in benar dengan tugas sekolahnya. Tugas ini memaksa murid berkelana ke dunia fantasi, merangsang imajinasi, memilih dan merangkai kata dan diksi, juga mengatur setting dan isi. Siapa tokoh utamanya, dari sudut pandang orang ke berapa, kapan kejadiannya, apa konfliknya, apa pesan moralnya, dan lain sebagainya. Saya termasuk yang suka tugas ini, meskipun tulisan saya biasanya cuma setengah halaman. Saya suka karena di tugas ini tidak ada benar salah. Cerita bohong pun tetap dapat nilai. Judul yang sering saya pakai “Berlibur di rumah nenek”, padahal nenek saya satu kampung. hahaha. Apapun itu, saya berhasil mengaktifkan otak saya untuk berimajinasi, tangan saya untuk menulis, dan kemampuan bahasa saya untuk menyusun cerita.

Ada lagi tugas membaca nyaring di dalam kelas, bergantian dari satu baris ke baris yang lain, satu membaca, yang lain menyimak. Begitu terus sampai cerita atau bahan materi selesai. Bahkan tugas ini masih saya dapati sampai SMA. Dengan metode ini, koordinasi mata, telinga, dan otak menjadi terlatih. Murid jadi terlatih menyimak dengan penuh konsentrasi. 

Mungkin dampaknya bisa berbeda antar murid satu dengan yang lain. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi. Tetapi, satu yang pasti, murid diajarkan untuk struggle dan fokus, yang hari-hari ini sudah sangat jauh berkurang. Serba instan. Terlebih ada kecerdasan buatan.

Kemajuan teknologi adalah suatu keniscayaan yang tidak mungkin kita hindari. Justru wajib kita ikuti. Hanya saja, kita perlu bijak, bagaimana supaya peninggalan yang baik tetap dipertahankan di era sekarang. 

Yang saya liat dari anak saya, sekarang semua tugas serba digital. Anak-anak jarang menulis tulisan yang panjang. Sebagian besar jawaban pendek dan singkat. Materi sudah dalam bentuk slide power point. Ya, dalam bentuk poin-poin. Bukan lagi narasi panjang. Tidak ada lagi buku catatan. Apa itu salin catatan teman? Copy aja filenya. Untungnya, di sekolah anak saya masih ada tugas mengumpulkan cerita dalam bentuk ketikan MsWord, yang kemudian dibukukan oleh sekolah.

Saya hanya khawatir, jangan-jangan nanti anak-anak ini tumbuh dengan pemahaman semua harus instan. Tidak bisa merangkai kalimat dengan baik, apalagi membuat paragaf. Sulit dikit, tanya Google atau AI. Sedih rasanya. 

Saya mendorong siapapun yang berprofesi sebagai guru, tolong kebiasaan mencatat dan tugas mengarang untuk murid lebih digiatkan lagi. Tugas-tugas lain tetap lanjutkan sesuai metode kekinian. Juga peran kita sebagai orang tua, paksa anak-anak untuk tetap membaca. Belikan buku cerita, minta anak untuk menceritakan ulang. Atau kalau habis nonton video YouTube mintalah untuk menceritakan ulang (story telling), kasih ia penghargaan yang sesuai dengan usahanya.

Dengan memperkuat basis literasi, kita akan mampu bertahan didunia yang penuh ilusi. Sekian.

*Cuma pikiran iseng dikala mengolah data SPSS. Minggu 12 April 2026, 00.30

Sunday, September 10, 2023

Praktek dr. M. Dimas Abdi Putra, SpOG., M. Ked. Klin.

Praktek 1:
RSUD dr. Soetomo
Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.6-8, Airlangga, Kec. Gubeng, Surabaya, Jawa Timur 60286 Telp. (031) 5501078.
Setiap hari kerja.
Praktek 2:
RS William Booth Surabaya
Jl. Diponegoro No.34, Darmo, Kec. Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur 60241 Telp. (031) 5678917
Hari:
Rabu Pukul 19.00-21.00
Jumat Pukul 16.00-19.00
Praktek 3:
RS Wijaya
Jl. Raya Menganti No.398, Wiyung, Kec. Wiyung, Surabaya, Jawa Timur 60228 Telp. (031) 7523087
Hari:
Selasa Pukul 15.00-17.00
Kamis Pukul 15.00-17.00
Jumat Pukul 19.00-21.00

Friday, May 20, 2022

Resume Think and Grow Rich yang ditulis oleh Napoleon Hill

Menyesal sekali saya baru tahu ada buku sebagus ini. Ternyata buku ini memang sesuai dengan tagline yang ditulis di sampul depannya, “Bestseller legendaris yang mengawali semua bestseller”. Tak berlebihan, karena memang buku ini mengajarkan pemikiran-pemikiran fundamental yang dapat membentuk sesorang menjadi lebih baik, sukses dan kaya.
Saya membaca buku ini yang edisi abad ke-21, sebagai informasi, buku ini terbit pertama kali di AS pada tahun 1937. Mengalami beberapa kali cetak ulang dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa hingga terjual puluhan juta eksemplar di seluruh dunia. Satu hal yang saya tangkap dalam buku ini adalah bagaimana kita membangkitkan pikiran kita, supaya tidak terkurung dalam imajinasi yang negatif. Kita diajarkan apa yang disebut afirmasi positif. Tujuannya adalah menanamkan dalam bawah sadar cita-cita yang ingin dicapai dengan sugesti positif. Sebagai contoh, kita mengidam-idamkan uang sebesar 1 Milyar. Maka dalam buku ini kita diajarkan untuk melakukan sugesti positif (afirmasi positif) dengan cara membuat kalimat yang berisi keinginan kita disertai kapan waktu yang kita inginkan untuk mendapatkannya dan cara mendapatkannya. Sebagai contoh: “Pada tanggal 22 Januari 2023, saya akan mendapatkan uang sebesar 1 Milyar rupiah yang saya dapatkan dengan cara bekerja sebagai seorang professional, melakukan investasi dalam bidang property dan logam mulia dan sedekah rutin”. Perhatikan penggunaan kata “akan”dalam contoh diatas, alih-alih menggunakan kata “ingin”, kata “akan” dipilih karena memiliki tujuan dan hasrat yang lebih tegas daripada sekedar ingin. Jadi cobalah untuk membuat kalimat afirmasi positif sesuai dengan keinginan Anda, dan buku ini juga menyarankan untuk mengulang-ulang setiap hari sampai kita bisa mengimajinasikan keinginan kita. Ulang saat mau tidur dan bangun tidur. Bila Anda kesulitan membayangkan cita-cita Anda, penggunaan bantuan visual dengan mencari gambar yang sesuai dengan keinginan Anda bisa membantu memudahkan visusalisasi. Buku ini menunjukkan 31 penyebab kegagalan yang seringkali membuat kita gagal mendapatkan kesuksesan. Lihat tabel berikut, (poin ke-31 adalah pilihan pembaca).
Coba Anda cek, poin yang mana yang kira-kira menjadi penyebab kegagalan Anda selama ini. Bagaimana menjadi pemimpin dan menjelaskan karakter pemimpin dan penyebab kegagalan kepemimpinan juga dijelaskan dalam buku ini. Saya coba ringkaskan dalam tabel dibawah ini.
Memimpin memang tidak mudah, membutuhkan keberanian dan mungkin mentor untuk melakukan evaluasi dan koreksi. Seringkali ada ego yang merasa “saya tidak butuh mentor”. Dan ini adalah contoh sifat pemimpin yang kurang baik. Mentor dalam buku ini juga disebut dengan “master mind”, sekelompok orang yang memiliki pengalaman, pendidikan dan kekayaan yang lebih baik dari kita, yang dapat memberikan masukan terhadap apa yang kita lakukan. Ada pula bab yang mengajarkan meniru pahlawan atau idola kita. Cukup dengan membayangkan dan mengaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Suatu contoh dalam buku ini, sang penulis mengidolakan sembilan tokoh penting, seperti Napoleon, Carnegie, Ford, Emerson, Darwin, Lincoln, Burbank, Edison, dan Paine. Ia mengidolakan masing-masing orang karena kepribadiannya atau kehebatannya. Setiap malam, ia membayangkan sedang rapat dengan orang-orang tersebut dan membayangkan ia yang memimpin rapat, sembari meniru hal-hal baik dari idolanya tersebut. Dan ini yang disebut membentuk karakter diri dengan autosugesti. Dijelaskan pula bahwa ada 6 ketakutan yang seringkali menghambat seseorang untuk maju. Ketakutan-ketakutan ini sering menghantui seseorang usia berapapun, dan menjadi panghalang untuk sukses. Takut pada kemiskinan, takut pada kritikan, takut pada kesehatan yang buruk, takut kehilangan cinta seseorang, takut menjadi tua, takut pada kematian. Tidak mungkin saya jelaskan satu persatu disini, satu contoh yang saya anggap menarik adalah takut pada kemisikinan, karena dianggap sebagai ketakutan yang paling merusak. Rasa takut miskin tumbuh dari kecenderungan memangsa manusia lain secara ekonomis. Hasrat ingin kaya kadang menyebabkan seseorang rela melakukan apapun, sehingga tampak dia bukan hanya ingin kaya tapi takut miskin. Binatang yang akalnya terbatas, akan memangsa atau menyerang binatang lain secara fisik jika ia tidak makmur, namun manusia, dengan kelebihan akal yang ia punya, tidak melakukannya secara fisik, ia dapat merampok dari sesamanya secara finansial. Manusia itu tamak. Banyak hal lain yang tidak mungkin saya ceritakan satu persatu. Satu hal yang pasti, untuk Anda yang menginginkan perubahan, buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca.

Wednesday, January 20, 2021

Saya Kuatir

Saya kuatir karena di era yang serba pakai jari ini, semakin beragam pilihan cita-cita para generasi penerus. Kekuatiran saya bukanlah tanpa alasan. Teknologi media sosial yang luar biasa pesat dan maju dalam dekade terakhir membuat setiap individu ingin melakukan aktualisasi diri dan mungkin juga mencari jati diri. Dan tentunya kekuatiran ini terutama saya tujukan untuk mereka yang masih kategori anak dan remaja. Kalau kita tanyakan pada kelompok anak atau remaja apa cita-cita mereka nanti, mungkin akan jarang lagi kita dengar jawaban dokter, polisi, pilot, insinyur atau guru. Kini mereka punya wawasan lain yang lebih familiar sejak mereka kecil, sebut saja istilah youtuber, selebgram, influencer dan vlogger. Tentu sah-sah saja bila cita-cita itu dimulai dengan langkah yang luhur dan beradab. 

Saya kuatir karena di era media sosial ini, anak-anak dan remaja makin mudah mencari informasi, makin mudah melihat punya orang lain, apapun itu, dan makin mudah terpapar oleh banyak hal yang tidak perlu. Anak dan remaja adalah masa yang sangat penting dalam proses pematangan fisik dan mental. Banyak contoh kasus yang menunjukkan betapa kacau dan rusaknya masa depan seseorang bila sejak kecil ia terpapar oleh banyak hal buruk. Dan itu mudah sekali dialami oleh mereka yang sedang dalam fase pertumbuhan di era sekarang.

Saya kuatir mereka memilih role model dari media sosial yang sebenarnya palsu. Mereka follow akun yang isinya pamer harta kekayaan, kemudian mereka berpikir bagaimana caranya supaya bisa seperti itu, namun karena jauh api dari panggang, mereka hanya berupaya terlihat kaya. Akhirnya, terpaksa utang, ikut pinjaman online, atau kredit ini itu yang dipaksakan, semua hanya demi konten, dan berakhir dengan ditagih debt collector atau bunuh diri karena lilitan utang. Mereka ingin menjadi kaya tanpa tahu bagaimana proses panjang dan berat yang dilalui oleh sang pemilik akun. Masalah lain, banyak pengguna media sosial yang pamer harta kekayaan orang tuanya, setiap kali melakukan postingan baru isinya pamer fasilitas di rumahnya yang super mewah atau pamer barang mahal yang baru dibeli. Pasti yang ditunggu adalah komentar atau like dari para followernya. Hal-hal seperti ini akan menumbuhkan rasa tidak mau kalah dan silau dengan pujian. Dan sifat ini akan membentuk pribadi yang emosional, sombong dan rapuh.

Saya kuatir dengan konten semi-pornografi yang mendapat jutaan like, follower atau subscriber menjadi inspirasi bagi anak dan remaja jaman sekarang. Banyak selebgram yang kalau tidak jualan susu (payudara) ya jualan pupu (paha). Semuanya demi uang. Nafsu seksual adalah basic instinct hewan, dan manusia sejatinya adalah hewan yang dianugerahi akal. Menggaet pengikut di media sosial dengan memanfaatkan basic instinct tadi merupakan hal yang paling mudah dilakukan. Tinggal bagaimana kita menyertakan akal dalam setiap aktivitas kita di dunia maya. Sebenarnya pemerintah telah melakukan blokir konten pornografi dari mesin pencari Google, namun ternyata kini di Instagram, YouTube dan Facebook banyak akun berkeliaran yang menawarkan konten semi-pornografi pada para penikmat dunia maya. Dan ini degradasi moral. Apapun pembelaan dan pembenaran yang dilakukan para pemilik konten, mereka turut menyumbang melakukan degradasi moral secara konsisten. Masalah lain lagi, bukan hanya mereka yang berusia muda yang melakukan degradasi moral tadi, yang setengah tua pun juga. Demi uang, demi endorse, demi popularitas, dan lain sebagainya.

Saya kuatir konten para artis yang menunjukkan kemewahan bisa menjadikan followernya yang beragam latar belakang mengalami delusion of grandeur atau waham kebesaran. Kucing yang merasa singa akibat salah menafsirkan apa yang ia lihat. Sebelum era media sosial, artis hanya bisa kita liat di televisi, dalam waktu-waktu tertentu, dengan proses editing yang rapi. Beda dengan jaman sekarang dimana artis bisa melakukan apa saja, menyajikan apa saja, menunjukkan apa saja, dan ditayangkan kapan saja semau mereka. Para penonton atau follower pun dapat melihat kapan saja mereka mau, diulang-ulang sampai berapa kali pun bisa. Tentu saja artis itu tidak salah secara hukum, dan sah-sah saja. Dan juga, banyak artis yang kontennya bagus dan bermanfaat. Paparan yang konsisten dapat membentuk karakter seseorang, dan pembentukan karakter tersebut bisa di atur oleh moral dasar seseorang. Bila dia memiliki dasar moral yang baik, tentunya bawah sadarnya akan menolak bila mendapati satu postingan di media sosial yang bertentangan dengan moralnya. Disinilah perlunya support system dari orang tua dan juga keluarga untuk memberikan moral dasar bagi anak-anaknya. Menekankan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang layak ditiru dan mana yang tidak.

Saya kuatir orang tua era media sosial menjadi permisif terhadap anaknya, asal popular, asal terkenal, asal dapat uang, asal konten laris, peduli setan dengan moral dan akhlak. Dilihat dari sisi manapun, popularitas hanyalah kenikmatan yang semu dan sementara. Dan efek simpang yang dapat ditimbulkan akibat popularitas yang bukan pada tempatnya adalah masalah psikologis. Munculnya mekanisme pembelaan ego yang imatur, depresi, hingga psikotik. Banyak selebgram baik di dalam maupun luar negeri yang mengalami depresi akibat perundungan (bullying) di media sosial, akibat jumlah like yang kurang ataupun caci maki para haters. Mungkin ini juga alasan Instagram menghapus fitur jumlah like.

Saya kuatir kini orang tua tidak peduli dengan anaknya, tidak peduli dengan apa yang dilihat anaknya karena sibuk dengan media sosialnya sendiri. Padahal peran orang tua dalam melakukan filtrasi konten untuk anaknya sangat penting. Orang tua harus bisa menjadi filter, menjadi pengarah dan menjadi hakim yang adil atas konten yang dilihat anaknya. Adil dalam artian sesuai porsi. Karena setiap jaman ada orangnya dan setiap orang ada jamannya, tidak mungkin arus masuk teknologi media sosial kita hindari sama sekali. Ini yang perlu diketahui. Oleh karena itu orang tua harus adil, waktu dan konten harus sesuai porsi anak.

Ya, saya kuatir.

About Me

My photo
Dokter Kandungan praktek di RSUD dr. Soetomo, RS William Booth Surabaya, RS WIjaya