Saturday, June 6, 2020

Adaptasi New Normal di Indonesia, bisakah?

Akhir-akhir ini pemerintah Indonesia menyiratkan akan melakukan adaptasi terhadap pandemi Covid-19, new normal, itu namanya. Berdasarkan perhitungan para pembuat kebijakan, tampaknya Indonesia sudah saatnya memasuki apa yang disebut dengan new normal tadi. Coba kita lihat satu persatu apa yang disebut dengan new normal ini.

Menurut Oxford Dictionary[1], makna idiom new normal adalah a situation that used to be unusual but is now what you should expect. Tidak biasa, tapi mau tidak mau harus dikerjakan. Begitu kira-kira bahasa gampangnya. 

Idiom new normal ini sudah ada sejak lama, populer dalam dunia bisnis dan ekonomi pada tahun 2008, dimana saat itu terjadi resesi global, dan mau tidak mau, dunia usaha harus beradaptasi dengan krisis pada saat itu [2]. Bahkan sebelum itu, tahun 2001, tragedi 9/11 di U.S, menyebabkan idiom new normal ini juga muncul, dimana pada saat itu penguatan sistem keamanan ditingkatkan lagi dan menjadi baku baru [3]. Dan banyak lagi idiom new normal yang dipakai jauh sebelum pandemi Covid-19 terjadi.

Pandemi suatu penyakit tentunya merupakan ranah WHO sebagai suatu organisasi kesehatan dunia. Namun, istilah new normal versi WHO sampai tulisan ini dibuat belum ada. Dilakukan pencarian pada kolom search situs WHO pun tidak ada satu artikel yang memuat  kata new normal [4]. Presiden Indonesia, Jokowi, memunculkan istilah new normal per tanggal 15 Mei 2020. "Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal", tutur beliau [5]. Disini yang menarik, WHO secara resmi belum menyarankan new normal sebagai salah satu cara adaptasi yang perlu dilakukan, jadi, pemerintah kita ikut siapa? Sedangkan panduan untuk melakukan new normal, WHO menyampaikan bahwa ahli epidemiologi setiap negara harus dilibatkan dan mengambil tindakan berbasis bukti menyesuaikan negara tersebut [6].

Beberapa negara yang telah melakukan new normal antara lain, China, Australia, Italia, Korea Selatan, Vietnam, Taiwan, Selandia Baru, dan beberapa negara bagian Amerika Serikat [7]. Alasan yang digunakan oleh seluruh negara tersebut adalah mengembalikan kehidupan ekonomi dan bisnis masyarakat yang sempat mati suri dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Kemungkinan, pemerintah kita mencontoh negara-negara tersebut untuk melakukan adaptasi new normal. Namun, apakah pemerintah kita telah mencontoh keberhasilan negara tadi dalam mengatasi Covid-19? Menurut Dr. Hans Henri P. Kluge, WHO Regional Director for Europe,  ada enam syarat suatu negara boleh menerapkan new normal [8]:
  1. Bukti yang menunjukkan bahwa transmisi COVID-19 dapat dikendalikan.
  2. Kapasitas sistem kesehatan dan kesehatan masyarakat termasuk rumah sakit tersedia untuk mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak, dan mengkarantina.
  3. Risiko virus corona diminimalkan dalam pengaturan kerentanan tinggi , terutama di panti jompo, fasilitas kesehatan mental, dan orang-orang yang tinggal di tempat-tempat ramai.
  4. Langkah-langkah pencegahan di tempat kerja ditetapkan - dengan jarak fisik, fasilitas mencuci tangan, dan kebersihan pernapasan.
  5. Risiko kasus impor dapat dikelola.
  6. Masyarakat memiliki suara dan dilibatkan dalam kehidupan new normal
Sudahkah Indonesia mencapai itu semua?

Indonesia memiliki jumlah penduduk 273,523,615 jiwa [9], terbanyak keempat di dunia.

Dengan jumlah penduduk yang begitu banyak, pemerintah kita memberikan stimulus sebesar IDR 405,1 T, angka ini sebesar 2,8% dari PDB (produk domestik bruto) [10]. Sedangkan negara lain yang jumlahnya lebih sedikit daripada Idonesia, stimulus yang dikucurkan oleh pemerintahnya jauh lebih besar. Jepang memberikan stimulus 10% dari PDB (GDP), Australia 10,9%, Malaysia 10%, Singapura 10,9% dan Amerika 10,5% [10]. Gimana tuh kira-kira? Kabar terbaru yang beredar beberapa hari terakhir, pemerintah akan menambah suntikan dana untuk percepatan penanganan Covid-19 sebesar 62,3 T [11].

Sampai tulisan ini dibuat, Indonesia belum menunjukkan akan, telah atau melewati puncak pandemi. Grafik yang ditunjukkan oleh worldometer(dot)com jelas menunjukkan tren yang masih meningkat [12].
Sementara itu negara yang melakukan kebijakan new normal, grafik jumlah kasus Covid-19 sudah mulai melandai. Grafik dibawah ini contoh negara-negara yang mulai menerapkan new normal.

1. China [13]

2. Korea Selatan [14]
3. Taiwan [15]
4. Vietnam [16]
5. Hong Kong [17]
Negara-negara diatas berhasil melakukan kendali terhadap penularan Covid-19 dengan menerapkan lock down, active case finding, massive rapid test, stimulus dana yang optimal, dan yang paling penting warganya nurut.

Penerapan new normal ini bukannya tanpa masalah. Korea Selatan yang baru menerapkan new normal pada tanggal 6 Mei 2020, harus mengakui ketidaksiapan dan kegagalannya setelah ditemukan 79 kasus baru setelah penerapan new normal. Angka ini merupakan angka tetinggi dalam dua bulan terakhir. Akhirnya keputusan melakukan pembatasan sosial diberlakukan kembali per tanggal 29 Mei 2020 selama dua minggu [18].
Korea Selatan yang penduduknya sedikit, tertib dan berpendidikan saja masih gagal, apakah Indonesia bisa menerapkan new normal ini? Silahkan mereka-reka.

Pemerintah kita dihadapkan pada situasi yang sangat kompleks, menyelamatkan nyawa atau menyelamatkan dana? Disisi lain, masih ada masalah dana yang belum selesai seperti BPJS. Kalau mau berpikir epidemiologis, maka masalah nyawa tentu wajib diutamakan dengan jaminan dana dari pemerintah. Sayangnya, pemerintah kita tidak bisa melakukan ini. Untungnya, banyak orang kaya di Indonesia yang dermawan, ratusan milyar disumbangkan ke pemerintah setempat, rumah sakit dan warga terdampak untuk penanganan Covid-19.

Sebagai warga negara yang baik, tentu tidak bijak bila kita hanya menyalahkan atau menggerutu terhadap kebijakan pemerintah. Covid-19 ini pandemi dan sangat menular. Kepatuhan terhadap anjuran pemerintah merupakan kunci utama pencegahan dan memutus rantai penularan infeksi Covid-19. Selama kita tidak patuh, maka new normal akan jauh panggang dari api.

Sudahi hoax, tuduhan konspirasi, monetisasi Covid-19, dan anggapan-anggapan sampah lainnya yang menjurus pada perpecahan kita. Biasakan saring sebelum sharing.

Semoga Covid-19 bisa segera dikendalikan di Indonesia dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Referensi
1. https://www.oxfordlearnersdictionaries.com/definition/english/normal_2
2. https://en.wikipedia.org/wiki/New_Normal_(business)
3. https://www.youtube.com/watch?v=VxdD7aq4Oj8
4. https://www.who.int/home/search?query=new%20normal&page=1&pagesize=10&sort=relevance&sortdir=desc&cname=highlight-en&cname=emronew&cname=who&cname=euro&cname=afro&cname=amro&cname=pmnch&cname=searo&cname=workforcealliance&cname=wpro&default=AND&f.Countries.size=100&f.Lang.filter=en&f.RegionalSites.filter=Global&f.RegionalSites.size=100&f.Topics.size=100&f.contenttype.filter=html&f.contenttype.size=100&f.doctype.size=101&facet.field=RegionalSites&facet.field=Topics&facet.field=doctype&facet.field=Countries&facet.field=contenttype&facet.field=Lang&tune=true&tune.0=3&tune.1=2&tune.2=2&tune.3=3&tune.4=180&tune.5=75
5. https://nasional.tempo.co/read/1342885/pernyataan-lengkap-jokowi-soal-new-normal-damai-dengan-covid-19/full&view=ok
6. https://www.who.int/southeastasia/news/detail/15-05-2020-local-epidemiology-should-guide-focused-action-in-new-normal-covid-19-world
7. https://republika.co.id/berita/qb1arm396/legislator-kebijakan-new-normal-dinilai-terburuburu
8. https://tirto.id/syarat-new-normal-dari-who-negara-sudah-mampu-kendalikan-covid-19-fDnC
9. https://www.worldometers.info/world-population/population-by-country/
10. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4983928/stimulus-rp-405-t-buat-lawan-corona-masih-kurang/1
11. https://tirto.id/siapkan-rp623-t-buat-lawan-corona-sri-mulyani-potong-anggaran-kl-eGsY
12. https://www.worldometers.info/coronavirus/country/indonesia/
13. https://www.worldometers.info/coronavirus/country/china/
14. https://www.worldometers.info/coronavirus/country/south-korea/
15. https://www.worldometers.info/coronavirus/country/taiwan/
16. https://www.worldometers.info/coronavirus/country/viet-nam/
17. https://www.worldometers.info/coronavirus/country/china-hong-kong-sar/
18. https://www.islampos.com/kasus-covid-19-naik-lagi-new-normal-di-korea-selatan-gagal-192307/

 egional Director for Europe, Dr Hans Henri P. Kluge

Baca selengkapnya di artikel "Syarat New Normal dari WHO: Negara Sudah Mampu Kendalikan COVID-19", https://tirto.id/fDnC
egional Director for Europe, Dr Hans Henri P. Kluge

Baca selengkapnya di artikel "Syarat New Normal dari WHO: Negara Sudah Mampu Kendalikan COVID-19", https://tirto.id/fDnC
Regional Director for Europe, Dr Hans Henri P. Kluge

Baca selengkapnya di artikel "Syarat New Normal dari WHO: Negara Sudah Mampu Kendalikan COVID-19", https://tirto.id/fDnC
Regional Director for Europe, Dr Hans Henri P. Kluge

Baca selengkapnya di artikel "Syarat New Normal dari WHO: Negara Sudah Mampu Kendalikan COVID-19", https://tirto.id/fDnC

Sunday, May 17, 2020

Tradisi

Indonesia ini besar dengan tradisi. Bagi sebagian besar orang Indonesia, tradisi seolah perintah wajib melebihi syarat dan rukun dalam ritual keagamaan.

Tiba-tiba ada pandemi. Keajegan menjaga tradisi pun diuji. Dan hasilnya, tradisi tetap diperjuangkan. Ngabuburit, mudik, dan silaturrahmi. Tidak ada di negara lain. Tradisi yang telah dibangun bertahun-tahun seolah tak rela bubar karena pandemi. Ditakut-takuti dengan cara apapun dan oleh siapapun, rakyat Indonesia tetap berjuang menjaga tradisi. Bukan satu hal yang patut dipuji. Mengingat ini situasi pandemi.

Aturan yang dibuat oleh para pembuat aturan dicari-cari celahnya supaya bisa lolos. Khas sekali. Sukanya ngakali.

Pun miskomunikasi, miskoordinasi, misinterpretasi marak akhir-akhir ini ditingkat para petinggi. Beda petinggi beda solusi. Masa itu bagian dari tradisi?

Perjuangan para tenaga kesehatan seolah-olah tak berarti kalau yang lain tetap melanjutkan tradisi. Polisi, TNI, Dishub, Satpol PP yang jaga di setiap check point bagai melukis diatas air.

Fakta yang mengejutkan, negara berpaham komunis lebih cepat mengatasi pandemi daripada negara demokrasi. Apakah ada korelasi? Ya mungkin karena mereka tidak kenal tradisi. Satu kata pemimpin, yang lain disiplin mengikuti. Tapi ini cuma satu sisi.

Sementara di Indonesia, semua di politisasi.

Tradisi.

Tuesday, April 28, 2020

Hikmah Pandemi


Semula berawal dari kota Wuhan
Konon katanya karena suka makan Batman
Bentuknya kecil namun mematikan
Hingga kini tak kuasa orang melawan

Tuhan, mungkinkah Kau marah?
Karena makhluk-Mu ora pati nggenah
Tua muda kini berbenah
Takut mati berkalang tanah

Tak ubahnya seorang pelaut
Pahlawan medis menerjang kabut
Selamatkan nyawa tak kenal takut
Sila ucap kata salut

Sementara alam tertawa
Senyum lebar puncak Himalaya
Cukup sudah manusia jumawa
Sunyi, diam dan dikarantina

Bahkan angkasa menonton
Menyaksikan membaiknya lapisan ozon
Bukan, ini bukan lelucon
Pengingat untuk merawat pohon

Para fauna pun bersorak
Mereka bermain tanpa belalak
Seolah-olah menuntut hak
Atas alam yang rusak

Titipan mereka bukan tak pintar
Ternyata mereka perlu banyak belajar
Ya, orang tua pun sadar
Hanya guru yang sanggup mengajar

Selalu saja ada solusi
Dalam setiap canda polusi
Tiap manusia kini di uji
Menarik hikmah dibalik pandemi

Tuesday, April 21, 2020

Benarkah Pandemi Virus Corona Telah Diprediksi?

Akhir tahun 2019 hingga triwulan pertama tahun 2020 merupakan masa yang sangat berat bagi seluruh negara di dunia. Pandemi virus corona. Awalnya virus ini beredar dan mengifeksi di kota Wuhan, China dan dengan sangat cepat menyebar hingga lebih dari 100 negara terinfeksi, dengan total kasus lebih dari 100.000 orang terinfeksi dan puluhan ribu kasus meninggal akibat infeksi virus tersebut. Strain virus corona  yang muncul tahun 2019 ini serupa dengan strain kasus SARS dan MERS yang menjadi endemic di banyak negara beberapa tahun sebelumnya. Virus ini menyerang saluran pernapasan, sangat mudah menular melalui droplet, dan hingga artikel ini ditulis, belum ada obat yang secara pasti dapat membunuh virus ini. Organisasi kesehatan dunia (WHO), menamai virus ini dengan COVID-19 (Corona Virus Disease-19) sesuai dengan tahun kemunculannya yaitu 2019.

Menariknya, pandemi virus corona ini diduga sudah diprediksi oleh seorang diva senior asal Amerika Serikat, Madonna. Pengamat teori konspirasi menemukan bahwa dalam salah satu video konsernya yang diadakan di Israel banyak mengandung subliminal message atau pesan tersembunyi. Berikut link youtube video tersebut:

Dimanakah sisi menariknya:
1. Lagu ini merupakan bagian dari album Madame-X, dimana di cover belakang album ini menggunakan gambar mesin ketik bertuliskan Corona.
Mesin ketik bermerk corona memang ada, dan banyak digunakan. Pertanyaannya, mengapa harus menggunakan mesin ketik dengan merk ini? Apakah hanya desainer albumnya yang memilih? Diva sekelas Madonna, rasanya tidak akan melewatkan hal detail.

2.Pada pembukaan lagu tersebut, muncul background menyerupai tengkorak yang memandang ke sisi para penonton, dan ada seraut wajah yang mengerikan di dekat jendela atas sebelah kanan dan kiri. Hanya separuh wajah.

Apakah memang kita diawasi?

3. Pada salah satu aksi panggunya, pas di bagian lirik "not every one is coming to the future.." dia menudingkan tangannya ke arah penonton. Dalam bahasa simbol, ini memiliki makna peringatan atau ancaman.
Did she warned us? with that kind of background?

4. Penari latar menggunakan mahkota yang tampaknya dilakukan highlight dengan bunga berwarna-warni, seolah memberikan pesan, lihat ini! Corona dalam bahasa Yunani berarti mahkota. Anehnya, selain menggunakan mahkota, para penari latar juga menggunakan masker. Paham ya?
Apakah ini hanya pilihan random seorang fashion designer? Pas sekali.

5. Gambar patung Liberty patah seolah-olah memberitakan luluh lantaknya Amerika akibat kasus ini. Kini Amerika menjadi negara dengan kasus terinfeksi Covid-19 terbanyak didunia.

Semoga segera bisa pulih.

6. Menjelang akhir lagu, ada dua orang bergandengan dengan tangan di belakang, menggunakan bendera Israel dan Palestina. Dan, akibat pandemi kasus corona ini, memang diberitakan Israel dan Palestina bekerja sama. Klik disini.
Tetapi, mereka bergandengan tangan di belakang, selepas itu mereka berpisah, mungkinkah kerjasama ini hanya sementara? Semoga tidak.

7. Diakhir lagu, semua penari latarnya seolah-olah tumbang tak berdaya. Hanya Madonna dan Quavo sang partner yang bertahan. Kemudian Madonna mengatakan "Wake Up!".
Kalimat yang simpel namun bermakna dalam.

Sebenarnya ada beberapa lagi dugaan subliminal message dalam lagu ini, seperti kebakaran hutan dan pilar Solomon. Tapi....

NB: Teori konspirasi tidak pernah bisa dibuktikan.

Wednesday, April 15, 2020

Prinsip Dasar Kontrasepsi

Kontrasepsi berasal dari dua kata, kontra yang artinya tidak dan konsepsi yang artinya pembuahan. Kontrasepsi artinya tidak terjadi pembuahan.
Di Indonesia, kontrasepsi di salah kaprahkan dengan frase Keluarga Berencana. Keluarga Berencana (KB) adalah program pemerintah dua anak cukup dengan menggunakan metode kontrasepsi yang sesuai.

Jenis kontrasepsi yang umum digunakan di Indonesia ada 3 macam:
1. Non-Hormonal
a. Barrier : Kondom, diafragma
b. Coitus interruptus: ejakulasi di luar vagina
c. Kalender: Menghindari coitus di masa subur
d. Metode Amenore Laktasi (MAL): ASI Eksklusif
e. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)/IUD: AKDR Copper T

2. Hormonal
a. Kombinasi estrogen dan progesteron: Pil KB, suntik 1 bulan
b. Progesteron only: minipill, suntik 3 bulan, AKDR-Progesteron (Myrena)

3. Kontrasepsi mantap:
a. Sterilisasi pada wanita: MOW/tubektomi/oklusi tuba
b. Sterilisasi pada pria: MOP/vasektomi

Grafik efektivitas metode kontrasepsi (Sumber: CDC)

Panduan memilih kontrasepsi:
1. Non-Hormonal:
  • Aman untuk pasien dengan penyakit komorbid (hipertensi, preeklamsia, obesitas, penyakit jantung koroner, stroke, autoimun, TB Paru).
  • Penggunaan barrier dan coitus interruptus kurang nyaman pada banyak pasangan.
  • Pada pengguna MAL, harus komitmen ASI eksklusif dengan jarak menyusui (pompa ASI) tiap 2-4 jam. Lebih dari 4 jam tidak menyusui atau pompa ASI berisiko meningkatkan hormon estrogen dan dapat menyebabkan ovulasi.
  • Angka kegagalan tinggi, kecuali IUD.
2. Hormonal:
  • Pada pasien dengan komorbid metabolik atau vaskular atau autoimun, tidak dianjurkan. Karena dapat memperburuk komorbid tersebut. Pada pasien TB Paru, interaksi hormon steroid dengan rifampicin dapat mengurangi efektivitas rifampicin.
  • Pada preparat kombinasi: masih bisa haid, kembalinya kesuburan cepat. Namun butuh kepatuhan yang baik karena minum pil setiap hari atau suntik setiap bulan. Meningkatkan risiko kanker payudara.
  • Pada preparat progesterone: 90% mengalami amenore (tidak haid), kembalinya kesuburan lambat, pada penggunaan lebih dari 10 tahun meningkatkan risiko meningioma (tumor otak meningen). Cocok bagi orang yang kurang patuh, karena cukup 3 bulan sekali. Mengurangi risiko kanker endometrium.
Data dasar yang diperlukan:
  • Indeks massa tubuh. Bila lebih dari 30 kg/m2 dianjurkan non-hormonal atau AKDR.
  • Komorbid. Riwayat penyakit sebelumnya, bila berhubungan dengan penyakit metabolik atau vaskular, hindari hormonal karena berisiko tromboemboli.
  • Menyusui. Bila menyusui pilihannya MAL atau progesterone only atau AKDR. Estrogen dapat menghambat prolactin yang dapat mengurangi produksi ASI.
  • Kepatuhan. Bila kepatuhan rendah, hindari kontrasepsi kombinasi.
  • Memberi jarak. Sebaiknya menggunakan kontrasepsi dengan reversibilitas kesuburan yang baik seperti kontrasepsi kombinasi atau AKDR.
  • Penyakit menular seksual. Bila pasien dengan riwayat penyakit menular seksual hindari penggunaan AKDR.
  • Fertilitas cukup (tidak ingin punya anak lagi): kontrasepsi mantap.
Panduan singkat cara menggunakan kontrasepsi
  • Kondom: digunakan sebagaimana mestinya.
  • Coitus Interuptus: sesaat sebelum ejakulasi, penis ditarik dari vagina, dan ejakulasi diluar vagina.
  • Kalender: berhubungan diluar masa ovulasi. 
Cara menghitung masa ovulasi:
Bila HPHT 1 Januari, bila siklus haidnya 28 hari, maka perkiraan haid selanjutnya akan mulai adalah 30 Januari hingga 1 Februari, jadi ovulasi terjadi 14 hari sebelum 30 Januari – 1 Februari, yaitu 15 Januari – 17 Januari. Hindari berhubungan di tanggal tersebut. CATATAN: metode kalender akan berhasil bila haid teratur.

  • MAL: menyusui tiap 2-4 jam. Eksklusif selama 6 bulan. Lepas 6 bulan wajib dikombinasi dengan metode kontrasepsi lain.
  • AKDR: membutuhkan bantuan tenaga medis bidan atau dokter. AKDR akan diletakkan di dalam Rahim, kemudian benang AKDR (akan dipotong). Selanjutnya pasien harus kontrol rutin sesuai jadwal dari tenaga medis.
  • Pil KB Kombinasi: yang beredar dipasaran adalah Pil KB Andalan, ada juga microgynon, dengan jumlah 28 pil, dimana 21 pil berisi kandungan aktif ethynyl estradiol dan levonorgestrel dan 7 pil placebo. Cara minum 1x sehari dimulai saat haid hari ke 2-3. Hari di sesuaikan dengan panduan yang ada pada tempat obat tersebut. Bila lupa minum, segera minum saat ingat, dan dibantu kombinasi dengan kontrasepsi lain (kondom atau coitus interruptus) selama 7 hari.
  • Minipill: berisi progesteron saja, ada yang 21 tablet, ada yang 28 tablet. Diminum sekali sehari. Kelebihan jenis ini, tidak mengganggu produksi ASI, cocok untuk ibu menyusui. Efek lainnya adalah tidak haid.
  • Kontrasepsi mantap: memerlukan konsultasi dengan dokter kandungan atau yang dilatih khusus untuk melakukan sterilisasi wanita/pria. Pada dasarnya saluran tuba (wanita) -tempat bertemunya sperma dan ovum- diikat atau dipotong dengan metode operasi, begitu pula untuk pria, yang dipotong adalah saluran vas deferens yang merupakan tempat keluarnya sperma. Vasektomi menyebabkan sperma tidak dapat keluar, beberapa orang mengatakan vasektomi mengurangi kepuasan seksual.
  • Suntik satu bulan: mengandung zat aktif estrogen dan progesterone. Disuntik setiap satu bulan sekali. Tidak mengganggu siklus haid. Preparat: Cyclofem. Jadwal suntik: tanggal yang sama setiap bulan (+ 2 hari).
  • Suntik tiga bulan: mengandung hanya progesterone (Medroxy Progesteron Acetate). Disuntik tiap tiga bulan. Preparat: depo provera, depo progestin.
Kira-kira ini adalah penjelasan singkat tentang metode kontrasepsi.


NB: Pilihan metode kontrasepsi harus dijelaskan dan didiskusikan dengan baik oleh suami dan istri.

Friday, April 10, 2020

Kehamilan Palsu

Cerita ini sebenarnya terjadi di hari yang sama dengan cerita yang saya post sebelumnya dengan judul 'Kadung Hamil, Senyum!'. Namun cerita ini memiliki kisah yang berbeda sama sekali.

Seorang ibu muda berusia akhir 20an ditemani suami dan seorang perempuan -yang tampak lebih 'berada' dari pasangan tersebut- datang ke praktek saya dengan keluhan mual muntah dan tidak enak makan, dengan riwayat tidak haid selama 5 bulan. Setelah saya persilakan duduk, saya bertanya sedikit tentang riwayat pernikahan dan persalinan pasangan tersebut. Mereka bercerita bahwa mereka telah menikah selama tujuh tahun, namun ini hamil yang pertama.
Satu hal yang menjadi perhatian saya, afek pasien apatis dan lebih sering menunduk daripada menatap saya. Mungkin karena bawaan saya kurang senyum. Suaminya lebih banyak berbicara, pun ibu yang mengantar. Tujuan mereka datang ke saya adalah untuk memeriksakan sang ibu yang menurut perhitungannya saat ini sedang hamil lima bulan. Anehnya, mereka belum sekalipun memeriksakan kehamilan yang ditunggu-tunggu ini ke tenaga medis, hanya sekali ke dukun bayi, dan dikatakan hamil 4 bulan saat itu. Kebiasaan tradisional yang tidak patut dipertahankan.

Saya bertanya, mengapa tidak pernah periksa, bukankah ini kehamilan yang ditunggu? Jawab sang suami karena sibuk bekerja dan belum ada dana.
Kemudian, apa saja yang sudah dilakukan? tanya saya kembali. Setelah melakukan pemeriksaan ke dukun bayi, dilakukan acara empat bulanan di kampung, selametan dengan keluarga, begitu jawab suami. Hm.. paradox.

Setelah sedikit wawancara tadi, saya melanjutkan ke pemeriksaan fisik, yang saya temukan perutnya membesar, seolah ada sesuatu di dalam perutnya, bahkan perutnya yang membesar hingga pusat. Oke, ini sesuai 20-24 minggu.

Kemudian saya melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG), saya coba raba perut ibu, kesannya tidak ada yang membesar, tidak pula teraba rahim. Sambil melakukan USG, saya bertanya apakah ada mual dan muntah, ibu itu menjawab ada, sehari bisa lebih dari lima kali. Perlahan-lahan saya melakukan pemeriksaan USG, memastikan kehamilan sang ibu. Namun, saya tidak berhasil menemukan janin di dalam perut ibu, bahkan rahimnya pun tidak membesar. Perut yang tampak membesar tak lebih hanya jaringan lemak dan organ dalam perut, tidak ada janin. Saya ulang lagi, hasilnya, sama. Tak tampak pula kantong atau janin di luar rahim.

Setelah meyakinkan diri saya sendiri bahwa ibu ini tidak hamil, saya mempersilakan ibu untuk turun dari meja periksa. Sambil berjalan pelan, saya mengingat-ingat apa istilah medisnya kehamilan palsu ini. Terakhir saya belajar saat dokter muda di bagian psikiatri. Ternyata sulit juga melakukan recall.

Saya menjelaskan pada ibu tadi dengan hati-hati.

'pak, bu, ibu tidak hamil. Hasil USG saya menunjukkan tidak ada janin dalam perut ibu, bahkan rahim ibu pun tidak membesar.'
Tak ada sepatah kata yang keluar dari pasangan tadi.
Ibu sang pengantar tadi akhirnya berbicara, 'pasti tidak hamil ya dok? soalnya dia mual muntah terus dok, dan perutnya membesar. Masa palsu dok, apa bukan hamil anggur dok?'
Saat ibu tersebut mengatakan kata palsu dan hamil anggur, entah kenapa tiba-tiba terlintas di otak saya, kata pseudocyesis. Ya, itu yang saya tunggu-tunggu. Pseudocyesis alias kehamilan palsu.

'Iya bu, ibu ini tidak hamil, istilah medisnya pseudocyesis, kehamilan palsu', saya mencoba menjelaskan.
Kehamilan palsu ini terjadi akibat keinginan ibu yang sangat kuat untuk hamil, sehingga otak memerintahkan ke bagian  tubuh kita seolah-olah kita hamil. Yang paling ingin dilihat saat hamil, salah satunya perut membesar. Dan ini erat kaitannya dengan masalah psikiatri.

Saya masih memperhatikan afek ibu tadi yang belum bersuara, dan afeknya masih datar. Saya coba menerka apa yang dirasakan ibu tadi, kemungkinan dia merasa bersalah karena belum bisa hamil dan sangat ingin hamil. Pikiran ingin hamil ini menghantui trus sehingga dalam alam bawah sadarnya tercipta kondisi bahwa ibu ini hamil dan otak memerintahkan apa yang ibu ini inginkan. Tidak haid dan perut membesar. Dan itu berhasil, bahkan hingga mengadakan acara syukuran empat bulanan.

Suaminya mengernyitkan dahi, kecewa dan tidak percaya dengan hasil pemeriksaan saya. Saya kembali menjelaskan dengan hati-hati, sampai akhirnya suami tersebut menerima kondisi istrinya.

Saya pun sedikit tidak percaya, kasus pseudocyesis ini sangat jarang. Sedikit literatur yang menjelaskan kasus ini. Selama saya sekolah spesialis kandungan, belum sekalipun saya menemukan kasus ini.

Secara teori, kasus ini sering terjadi pada kelompok sosial ekonomi rendah, akses kesehatan yang sulit, dan stress berat. Manifestasi kehamilan yang terjadi dipengaruhi oleh penurunan dopamin akibat stress yang mengakibatkan penurunan GnRH sehingga meningkatkan hormon gonadotropin (FSH dan LH) yang menyebabkan amenorea. Sedangkan pembesaran perut diduga akibat penurunan norepinefrin sehingga aktivitas sensori-neural terganggu dan menyebabkan pembesaran perut.
(Sumber: Klik disini).

Akhirnya, mereka menerima apa yang saya jelaskan, dan meninggalkan tempat praktek saya. Mungkin dengan seribu pertanyaan.

Sunday, March 22, 2020

Geregetan

Informasi terkait virus corona dan COVID-19 sudah banyak beredar, tulisan ini lebih ke uneg-uneg saya terhadap penanganan COVID-19 oleh pemerintah Indonesia.

Selama sifatnya himbauan tidak akan efektif pak, bu. Coba ganti instruksi dengan larangan yang tegas. Dilarang:
- nongkrong di warkop
- pasar tumpah
- ibadah yg sifatnya massal

Optimalkan peran Pol PP, Linmas, Polisi, TNI, tokoh agama, ketua RT/RW.
Yang melanggar disemprit, kasih peringatan bila perlu ancaman pasal.
Warkop sampe skrg masih rame.

Mohon kerjasamanya juga untuk pelaku usaha yang laris manis usahanya, ambillah kebijakan yang mendukung pemerintah, misal take away only. Sampe saiki sek nglumpukk aee wong2 iki.

Jatim tiba-tiba darurat covid-19, tapi belum keliatan tindakan nyata ke masyarakat. Sementara korbannya meningkat eksponensial. Terutama preventif. Tindakan kuratif kalau wabah begini, kelabakan pasti. Nunggu Herd immunity? 70% harus terpapar, dan yang meninggal harus ratusan ribu orang. Setengah ngawur meskipun itu rasional.

Kasus langkanya masker, alkohol dan terakhir choloroquine cobalah dijadikan pelajaran. Panic buying terjadi karena tidak ada jaminan dari pemerintah bahwa masyarakat akan mendapatkan secara merata. Buatlah kebijakan menghentikan distribusi masker, APD, obat yang sifatnya personal. Di take over lah itu pabrik2 besar, ambil masker2nya, alkohol2nya, edarkan secara merata. Ojok malah diekspor. Asem.

Kalau begini terus, Edukasi moral ga akan mempan. Sifat Egosentris akan muncul dengan sendirinya. Karena rasa aman itu kebutuhan dasar manusia.

Anda2 yang ignorance, sok kebal, sok religius, mohon dicek otak Anda, akalnya masih ada nggak? Cek hati Anda, empatinya masih ada nggak? Cukup dengan tinggal di rumah, dan sering2 cuci tangan, Anda sudah berhak merasa Anda berperan dalam menurunkan wabah. Just stay at home.
Bantu tenaga medis yang berjibaku dengan COVID-19 cukup dengan tinggal di rumah.

Satu lagi, stop polarisasi. Keputusan politis yang memihak seluruh komponen masyarakat saat ini sangat diperlukan.

About Me

My photo
Dokter Kandungan praktek di RSUD dr. Soetomo, RS William Booth Surabaya, RS WIjaya